Sabtu, 18 Juli 2009

puisi romantis tapi jadul

Tiga minggu yang lalu…
Untuk pertama kalinya kulihat kau berdiri tegak lurus lantai
Kulihat alismu yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 4 cm
Saat itulah kurasakan sesuatu yang lain dari padamu
Kurasakan cinta yang rumit bagaikan invers matriks berordo 5×5

Satu minggu kemudian aku bertemu kau kembali…
Kurasakan cintaku bertambah,
bagaikan deret divergen yang mendekati tak hingga
Limit cintaku bagaikan limit tak hingga
Dan aku semakin yakin,
hukum cinta kita bagaikan
hukum kekekalan trigonometri sin2+cos2 = 1
Kurasakan dunia yang bagaikan kubus ini menjadi milik kita berdua

Dari titik sudut yang berseberangan,
kau dan aku bertemu di perpotongan diagonal ruang
Semakin hari kurasakan cintaku padamu
bagaikan grafik fungsi selalu naik yang tidak memiliki nilai ekstrim.
Hanya ada titik belok horizontal yang akan selalu naik
Kurasakan pula kasihku padamu
bagaikan grafik tangen (90o <>

Namun aku bimbang…
Kau bagaikan asimtot yang sulit bahkan tidak mungkin kucapai
Aku bingung bagaikan memecahkan soal sistem persamaan linear
yang mempunyai seribu variabel dan hanya ada 100 persamaan
Bahkan ekspansi baris kolom maupun Gauss Jordan pun tak dapat memecahkannya

Walaupun bagai asimtot yang banyak sudut ruang
Dan penuh skala hexsa, tetra dan berdiagonal
Hingga segala persamaan menggunakan suatu integral
Namun aku berusaha meraihnya walau terbang ke bintang

dengan kebulatan tekad sebulat keliling planet bumi
dibantu jalan pintas diatas sudut lurus
melewati putaran lingkaran 360' sambil bernyanyi
Melalui grafik diatas sebuah bidang kertas

dengan menyerdahanakan persamaan hingga x=ay+b jg x=by+a
hingga tercipta equibilirium di suatu titik pertemuan
equilibirium itulah merupakan tempat kita berjumpa
menciptakan keseimbangan dari perjalanan kisah cinta
Hingga menjadi suatu himpunan yang tak terpisahkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar